Kamis, 24 Juli 2014

tugas softskill 3

Keuntungan & Kerugian Menabung di Bank
 
 
Jaman dulu orang tua kita tidak pernah bosan berpesan agar kita selalu rajin menabung supaya hidup jadi untung. Memang tidak salah, karena keuntungan yang diperoleh penabung bukan saja berupa (sedikit) bunga, tapi juga beragam hadiah menarik. Tapi saat ini, situasinya sudah jauh berubah, karena menyimpan uang ke dalam rekening tabungan bank tidak sama lagi seperti dulu. Seperti apa keuntungan kerugian menabung di bank saat ini?

Sekilas Menabung di Bank


Rekening tabungan adalah adalah salah satu fasilitas perbankan yang memungkinkan Anda sebagai nasabahnya menyimpan uang di tempat yang aman sembari menerima sedikit bunga setiap bulannya. Hampir semua bank di Indonesia telah menawarkan fasilitas bernama rekening tabungan ini.

Kerugian Menabung di Bank


Jika Anda berpikir bahwa bunga dari tabungan adalah hal yang menarik, pikirkan sekali lagi. Karena faktanya, layanan perbankan bernama rekening tabungan yang ada saat ini tidak lain adalah upaya perbankan untuk menjaring dana murah (murah bagi bank). Alih-alih berharap simpanan di rekening bertambah, nasabah justru dirugikan oleh adanya beban biaya administrasi dan pajak.

Biaya administrasi yang dibebankan oleh bank seringkali tidak sebanding dengan bunga yang diberikan. Terlebih bagi Anda yang memiliki salo bersih di atas Rp 7,5 juta rupiah di akhir bulan, bunga yang Anda terima masih akan dikenakan pajak sebesar 20%. Bukannya bertambah, Anda justru harus bersiap mengelus dada melihat saldo di rekening tergerus secara teratur. Ini adalah salah satu kerugian menabung di bank yang sering tidak disadari oleh banyak orang. Mungkin termasuk Anda.

Keuntungan Menabung di Bank


Jadi apakah tidak ada satupun keuntungan menabung di bank, jawaban yang paling tepat untuk pertanyaan ini hanya ada satu, yaitu untuk kemudahan transaksi keuangan Anda, seperti : penarikan uang di ribuan jaringan ATM (Auto Teller Machine), fasilitas transaksi online melalui e-banking, bebas biaya administrasi pada jumlah saldo tertentu dan juga penawaran hadiah langsung tanpa diundi (biasanya disertai dengan syarat dan ketentuan yang ketat).

Selain untuk kemudahan transaksi keuangan, keuntungan menabung di bank lainnya tentu saja merupakan cara yang lebih aman dan bijak ketimbang menyimpan uang Anda di rumah. Dengan syarat, bank yang Anda pilih adalah anggota dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Indonesia, maka simpanan Anda dijamin aman untuk saldo hingga Rp 2 miliar nasabah per bank
.

tugas softskill 2



Pencairan Deposito Sebelum Jatuh Tempo

Salah satu kelebihan deposito berjangka adalah suku bunga yang lebih tinggi daripada suku bunga yang ditawarkan oleh rekening tabungan biasa. Bunganya yang menarik dan relatif tetap meskipun suku bunga bank sedang naik atau turun, menjadikan deposito berjangka sebagai salah satu instrumen investasi favorit di Indonesia dari waktu ke waktu selain investasi properti. Meskipun dengan catatan, deposito tidak dapat dicairkan / ditarik kapan saja diinginkan, melainkan hanya pada saat jatuh tempo.

Seringkali ketika seorang nasabah memutuskan untuk membuka rekening deposito, ia cenderung yakin dapat mempertahankan rekening tersebut hingga saatnya jatuh tempo. Tapi pada kenyataannya, selalu saja ada keadaan yang membuat deposito tersebut dicairkan / ditarik sebelum waktunya. Alhasil tidak jarang seorang nasabah justru mengalami kerugian alih-alih mendapatkan keuntungan bunga yang dijanjikan oleh pihak bank.

Penyebab Umum Pencairan Deposito Sebelum Jatuh Tempo Dilakukan


1. Kebutuhan Keuangan yang Mendesak

Beberapa nasabah, meskipun biasanya yakin untuk tidak melakukan pencairan / penarikan rekening deposito sebelum waktunya, namun adanya kebutuhan mendadak bisa saja muncul tanpa pernah diduga, seperti : musibah kecelakaan, biaya berobat ketika sakit atau membayar hutang yang menumpuk dikarenakan kas bisnis sedang macet dan lain-lain.

2. Mengincar Suku Bunga yang Lebih Tinggi

Ada kalanya sebuah bank merubah kebijakan mengenai suku bunga yang ditawarkan kepada nasabahnya. Sebagai contoh, jika suku bunga deposito di sebuah bank pada Januari 2013 adalah 4,75% untuk tenor 12 bulan. Kemudian di tahun berikutnya, bank tersebut menetapkan bahwa suku bunga baru akan dinaikkan menjadi 5%, maka bagi nasabah yang ingin menikmati kenaikan suku bunga tersebut, harus terlebih dahulu mencairkan rekening deposito yang dimilikinya sebelum jatuh tempo bulan Januari 2014. Setelah itu, baru membuka kembali rekening deposito yang telah mengikuti kebijakan suku bunga terbaru.

3. Tawaran Deposito Bebas Penalti dari Bank Lain

Saat ini ada beberapa bank di Indonesia yang menawarkan pencairan rekening deposito sebelum jatuh tempo tanpa harus dikenai penalti. Berpindah ke bank lain yang menawarkan keringanan seperti ini bukan tidak mungkin menjadi opsi yang menarik dan biasanya sulit ditolak oleh nasabah.

Sanksi Pencairan Deposito Sebelum Jatuh Tempo


Meskipun deposito terhitung sebagai instrumen investasi yang (relatif) paling aman, hal tersebut tidak serta merta menjadikannya benar-benar bebas resiko. Resiko pada deposito akan muncul jika pencairan deposito ternyata dilakukan sebelum jatuh tempo.

Sanksi yang diberikan oleh pihak bank umumnya berupa penalti. Angka penalti dapat berkisar antara 0,5% hingga 2%. Selain penalti, ada juga bank yang memberi sanksi berupa pembatalan pemberian bunga atau pembayaran bunga yang nilainya di bawah bunga yang dijanjikan. Oleh karena itu, selalu cermati dengan seksama setiap syarat dan ketentuan yang diajukan oleh pihak bank sebelum benar-benar memutuskan membuka rekening deposito.

tugas softskill 1

Posisi Nasabah Dianggap Lemah dalam Masalah Perbankan

Masih ingat kasus Bank Century? Kasus Bank Century yang merugikan nasabahnya sekitar 6,7 triliun rupiah sampai saat ini belum juga tuntas. Kasus yang sama pun terjadi di Provinsi Jawa Tengah, yaitu di Bank Jateng Syariah Cabang Surakarta. Seorang nasabah Bank Jateng Syariah Cabang Surakarta mengalami kerugian sekitar 6 miliar rupiah.

Nasabah ini mengatakan bahwa rekening tabungannya raib dibobol pegawai bank sebab surat kuasa miliknya dipalsukan. Terkait dengan kasus ini, Bank Jateng pusat tak mengakui secara hukum Bank Jateng Syariah Cabang Surakarta ada di bawah naungannya.


Sebenarnya, nasabah yang merasa dirinya dirugikan oleh pihak bank bisa membuat surat pengaduan lewat media. Jika pihak bank tidak dengan segera menindaklanjuti pengaduan tersebut, akan berpengaruh terhadap reputasi bank yang bersangkutan. Jika jumlah tabungan nasabah nilainya di bawah 500 juta rupiah, Bank Indonesia bersedia melakukan mediasi. Tapi, untuk permasalahan nasabah yang jumlah tabungannya lebih dari itu, Bank Indonesia tak bisa memediasi dan harus ditangani oleh lembaga lain seperti pengadilan.

PENDAPAT: 
Pihak nasabah dan pihak bank sebaiknya menyelesaikan sengketanya terlebih dahulu. Tapi, bila nasabah merasa kurang puas, pihak pengadilan akan menentukan kebenaran surat kuasa palsu tersebut. Dalam dunia perbankan di Indonesia, pihak nasabah masih ditempatkan dalam posisi yang lemah. Hal ini wajar karena klausul-klausul dalam industri perbankan Indonesia belum memihak kepada nasabah sebagai penabung.

Selasa, 21 Januari 2014

Tata cara Membuat DFD

Pengertian DFD

Diagram Alir Data (DAD) atau Data Flow Diagram (DFD) adalah suatu diagram yang menggunakan notasi-notasi untuk menggambarkan arus dari data sistem, yang penggunaannya sangat membantu untuk memahami sistem secara logika, tersruktur dan jelas. DFD merupakan alat bantu dalam menggambarkan atau menjelaskan  DFD ini sering disebut juga dengan nama Bubble chart, Bubble diagram, model proses, diagram alur kerja, atau model fungsi.

Latar belakang DAD

Suatu yang lazim bahwa ketika menggambarkan sebuah sistem kontekstual data flow diagram yang akan pertama kali muncul adalah interaksi antara sistem dan entitas luar. DFD didisain untuk menunjukkan sebuah sistem yang terbagi-bagi menjadi suatu bagian sub-sistem yang lebih kecil dan untuk menggarisbawahi arus data antara kedua hal yang tersebut diatas. Diagram ini lalu “dikembangkan” untuk melihat lebih rinci sehingga dapat terlihat model-model yang terdapat di dalamnya.

Tips-tips dalam membuat DFD

Berikut ini tips-tips dalam membuat DFD :
  1. Pilih notasi sehingga proses yang didekomposisi atau tidak didekomposisi dapat dibaca dengan mudah
  2. Nama proses harus terdiri dari kata kerja dan kata benda
  3. Nama yang dipakai untuk proses, data store, dataflow harus konsisten (identitas perlu)
  4. Setiap level harus konsisten aliran datanya dengan level sebelumnya
  5. Usahakan agar external entity pada setiap level konsisten peletakannya
  6. Banyaknya proses  yang disarankan pada setiap level tidak melebihi 7 proses
  7. Dekomposisi berdasarkan kelompok data lebih disarankan (memudahkan aliran data ke storage yang sama)
  8. Nama Proses yang umum hanya untuk prose yang masih akan didekomposisi
  9. Pada Proses yang sudah tidak didekomposisi, nama Proses dan nama Data harus sudah spesifik
  10. Aliran ke storage harus melalui proses, tidak boleh langsung dari external entity
  11. Aliran data untuk Proses Report .. : harus ada aliran keluar. Akan ada aliran masuk jika perlu parameter untuk mengaktifkan report
  12. Aliran data yang tidak ada datastorenya harus diteliti, apakah memang tidak mencerminkan persisten entity (perlu disimpan dalam file/tabel), yaitu kelak hanya akan menjadi variabel dalam program.
Untuk memudahkan ‘cerita’, maka aliran data tersebut dibuat simbol-simbol. Sumbol “Sumber” dan “Tujuan” sama yaitu persegi panjang yang disebut dengan “Terminator” atau “External Entity.” Di dalam kotak tersebut berisikan nama pihak yang berperan. Contoh:

Gambar 1. Terminator “Mahasiswa”

Terminator adalah pihak (sumber atau tujuan) yang berhubungan langsung dengan sistem, ia adalah pihak yang langsung memberi data ke sistem, atau menerima informasi secara langsung dari sistem. Jadi, dalam sistem pengisian KRS mahasiswa di PSMA-Online, terminator “Mahasiswa” diperbolehkan ada karena mahasiswa akan mengubah data secara langsung yang ada di sistem (misalkan data jumlah pengambil mata kuliah tertentu), tetapi terminator “Orang-tua” tidak boleh ada meskipun ia yang membayar uang kuliah si mahasiswa, karena orang-tua tidak secara langsung mengubah data di sistem, ia mengubahnya melalui mahasiswa (anaknya).

Di dalam sistem pengisian KRS, “staf” yang bertugas juga tidak boleh dijadikan terminator, karena mereka adalah internal entity, bukan external entity (pihak yang berada di luar sistem, tetapi mempengaruhi sistem secara langsung). Dalam pengisian KRS, staf yang dapat dianggap sebagai terminator adalah Kepala BAAK karena ia tidak berkecimpung secara langsung di sistem pengisian KRS, tetapi ia dapat menerima informasi dari hasil pengisian KRS.

Jadi, sebelum membuat DFD, hal yang perlu dianalisis adalah “siapa saja yang akan berhubungan dengan sistem atau siapa saja yang akan menggunakan sistem, baik sebagai pemberi data maupun penerima informasi”

Setelah diketahui sumber dan tujuannya, maka hal berikut yang perlu dianalisis adalah “data apa yang diberikan oleh sumber atau diterima oleh tujuan ?.” Data itu bisa berupa satuan data maupun paket data, baik itu data manual maupun data elektronik. Aliran dari dari sumber atau ke tujuan disebut dengan “data flow” atau arus data. Simbolnya adalah sebuah garis (baik garis lurus, melengkung atau siku yang memiliki arah (mata panah). Di dekatnya (di atas atau di bawahnya, dan mendekati mata panahnya) diberi data yang dibawa.  Berikut contohnya:

Gambar 2. Arus data “Formulir Rencana Studi”

Jika terminator “Mahasiswa” digabung dengan arus datanya yang menjadi:


Gambar 3. Terminator “Mahasiswa” memberi data “Formulir Rencana Studi”

Maka itu berarti, mahasiswa membawa data (untuk sistem) yang berupa Formulir Rencana Studi yang di dalamnya berisi biodata mahasiswa (NPM, Nama, Kelas) dan daftar mata kuliah yang akan diambilnya.

Simbol berikutnya adalah simbol “Proses,” yaitu simbol yang menjelaskan proses yang dilakukan terhadap data yang diberikan. Proses disimbolkan dengan lingkaran yang di dalamnya ditulis proses ke berapa, dan apa proses yang dilakukan. Berikut contohnya:



Gambar 3. Proses “Mengecek Keabsahan Mahassiwa”

Jika digabung dengan dua simbol sebelumnya menjadi:
Gambar 4. Penggabungan tiga simbol.

Dari ketiga simbol tersebut, ceritanya adalah “mahasiswa datang membawa formulir rencana studi ke sistem dan proses yang pertama kali dilakukan oleh sistem adalah mengecek keabsahan mahasiswa.”
Apa yang dicek untuk mengetahui keabsahan mahasiswa ?, bisa jadi NPM atau yang ditulis salah, bisa juga jadwal pengisian untuk kelasnya bukan di sesi ini, dan sebagainya. Dengan apa sistem mengeceknya ?. Yang dikatakan sistem di sini adalah sistem komputerisasinya dan/atau staf yang bertugas (internal entity). Mengeceknya bisa dilakukan dengan membaca filedata oleh softwarenya, misalnya file MAHASISWA, bisa juga staf mengecek melalui jadwal pengisian KRS.

Simbol untuk melambangkan berkas yang akan dibaca atau ditulis disebut dengan “Data Store” atau penyimpan data. Lambang yang digunakan adalah dua garis paralel yang di antaranya ditulis nama berkasnya. Contoh:

Gambar 5. Data store “MAHASISWA”

Jika digabung dengan sebelumnya dan dilengkapi menjadi:

Gambar 6. Keempat simbol dalam DFD

Jadi, pada proses nomor 1, sistem akan mengecek keabsahan mahasiswa melalui dua berkas, yaitu berkas “Mahasiswa” atau file mahasiswa yang berisi biodata mahasiswa dan berkas “Jadwal” yang bisa merupakan dokumen manual yang dicek oleh staf.

Dapat diperhatikan bahwa arah panah ke luar meninggalkan data store yang dapat berarti berkas tersebut hanya “dibaca” dan tidak akan mengubah isi yang data sudah ada di dalamnya. Berbeda jika arah panahnya masuk ke arah data store yang berarti ada kegiatan menulis atau mencatat data ke dalam data store sehingga isi data store tersebut akan berubah, misalkan:

Gambar 7. Proses perekaman data

Jadi, ada 4 simbol di dalam DFD, yaitu (1) Terminator, (2) data flow, (3) process, dan (4) data store.

Contoh cara pembuatan DFD
Awalnya ga ada niat bikin beginian, tapi karna gw pelupa dan waktunya bikin TA ( Tugas Akhir ) gw pusing sendiri akhirnya gw tulis aja nih cara2nya disini biar kalo lupa lagi tinggal buka aja ini tulisan. Dan siapa tau aja ada juga yang butuhin ini tulisan, berbagi ilmu kan pahala :).

Oke langsung aja :
1. Buka Ms Visio
2. Pilih Template dengan mengklik menu di sebelah kiri yang bertuliskan flowchart >> kemudian pilih Data Flow Diagram  >> pilih radio button US units >> lalu klik create

Ini Tampilan Lembar Kerjanya

3. Drag and drop shape Data Process ke kertas kerja. Untuk menyisipkan text bisa langsung double klik data process-nya

4. Karna kali ini yang akan gw pake adalah shapes lingkaran (Data Process) ,  Persegi panjang (External interator) , garis dan persegi panjang yang satu sisinya terbuka dan di template ini ada salah satu shapes yg ga ada jd gw tambahin shapes dari template lain, cara menambahkannya adalah cukup ketik di kotak search.  
Buat nyari2 shape yg dbutuhin tinggal coba aja liat2 dulu semua template

5. Dan Akhirnya jadi deh DFD gw.


Sumber:
http://fairuzelsaid.wordpress.com/2010/01/08/analisis-sistem-informasi-diagram-alir-data-dad-data-flow-diagramdfd/
http://belajar-barengan.blogspot.com/2013/05/ppl-data-flow-diagram-dfd.html
http://choer9.blogspot.com/2013/04/cara-membuat-data-flow-diagram-dfd.html